Supervisi Riset Doktor Studi Pembangunan Sekolah Pascasarjana UNAND: Kembangkan Model Tata Kelola Kolaboratif Program Kampung Iklim Berkelanjutan di Kelurahan Legok, Danau Sipin

Oleh: Rudi Febriamansyah, Syafrial, Sirajul Fuad Zis
Program Doktor Studi Pembangunan
Sekolah Pascsarjana Universitas Andalas

Supervisi Riset Doktor Studi Pembangunan Sekolah Pascasarjana UNAND

Program Doktor Studi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas laksanakan Supervisi riset bagi mahasiswa. Supervisi penelitian doktor berguna untuk mengarahkan arah riset agar tetap valid, menjaga standar mutu akademik tingkat tinggi, serta membantu mahasiswa menyelesaikan disertasi. Pada kesempatan ini, salah satu mahasiswa yang mendapatkan supervisi yakni Syafrial, mahasiswa angkatan tahun 2022. Penelitian yang dilakukan oleh Syafrial megangkat isu mengenai tata kelola kolaboratif Program Kampung Iklim (Proklim), salah satu studi kasusnya di Kelurahan Legok, kawasan tepian Danau Sipin, Kota Jambi. Syafrial mendapat supervisi langsung dari Prof. Dr. Rudi Febriamansyah selaku promotor sekaligus Koordinator Program Doktor Studi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, serta tim pascasarjana (3-4/08/26). Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tata kelola kolaboratif mampu membangun keberlanjutan Program Kampung Iklim, sekaligus merumuskan model tata kelola yang adaptif dan berkelanjutan sebagai referensi bagi pengembangan Proklim di berbagai daerah di Indonesia, salah satu studi kasusnya di Kelurahan Legok.

Hal yang menarik yang menjadi bagian dari penelitian ini bagi masyarakat Kelurahan Legok, menjaga lingkungan bukanlah sekadar menjalankan sebuah program pemerintah. Gerakan tersebut telah tumbuh sejak tahun 2013 melalui inisiatif seorang local champion perempuan tangguh, Leni Haini atau yang lebih dikenal sebagai Leni Habibah, mantan atlet dayung yang pernah mengharumkan nama Indonesia melalui berbagai prestasi di tingkat internasional. Berangkat dari kecintaannya terhadap Danau Sipin, ia menggerakkan masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif bahwa kelestarian lingkungan hanya dapat diwujudkan apabila masyarakat menjadi pelaku utama dalam setiap proses perubahan. Isu yang melanda Legok ada pada isu lingkungan dengan sampah bertebaran pada wilayah sungai, isu sosial pada kawasan ini sering disebut sebagai lokasi peredaran narkoba di daerah itu. Julukan sebagai kampung narkoba menjadi citra buruk bagi masyarakat setempat. Adanya transaksi narkoba di kawasan itu memberikan dampak negatif bagi penduduk setempat. Perlahan tapi pasti Leni beserta pasukannya mengubah citra kampung narkoba di Kota Jambi jadi permukiman yang produktif dan bersinar (bersih dari narkoba).

Supervisi riset di Kelurahan Legok Danau Sipin

Menurut penuturan Leni, gerakan masyarakat yang telah tumbuh sejak 2013 tersebut kemudian memperoleh penguatan secara kelembagaan melalui Program Kampung Iklim (Proklim) pada tahun 2019. Berdasarkan penuturan Leni, kesadaran yang tumbuh pada dirinya menjaga lingkungan tetap bersih terdapat dari semangat jiwa patriot dari kakeknya, gerakan lingkungan ini merupakan kesadaran untuk masa depan masyarakat Legok yang lebih baik. Meskipun Leni beserta pasukannya mengalami beberapa ancaman, tantangan, dirinya tidak pernah gentar untuk melanjutkan niat baik tersebut. Leni juga menghibahkan rumahnya sebagai kantor bank sampah Legok, yang bisa mempekerjakan masyarakat lokal untuk ikut berkontribusi di bank sampah. Sejak saat itu, berbagai inisiatif masyarakat semakin terintegrasi dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan terus diperkuat sehingga membentuk sistem tata kelola yang semakin kokoh. Konsistensi dalam menjalankan berbagai program tersebut akhirnya mengantarkan Kelurahan Legok meraih predikat Proklim Utama, sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilannya dalam mengintegrasikan aksi mitigasi, adaptasi perubahan iklim, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Prestasi-prestasi dibuktikan banyaknya sertifikat yang di dapatkan Leni beserta pasukan menjadi semangat aksi bersama yang patut diapresiasi. Salah satu apresiasi itu telah mereka dapatkan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi.

Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas yang melibatkan berbagai kelompok lokal. Komunitas Peduli Danau Sipin menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian kawasan melalui kegiatan membersihkan sampah di Danau Sipin setiap hari, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta menumbuhkan budaya gotong royong. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dikelola melalui Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sehingga memiliki nilai ekonomi. Sistem pengelolaan tersebut bahkan mampu menghasilkan keuntungan (profit) yang dimanfaatkan untuk mendukung keberlanjutan berbagai kegiatan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Gerakan pemberdayaan ini juga diperkuat oleh Kelompok Dayung Habibah yang tidak hanya melestarikan olahraga dayung sebagai identitas Danau Sipin, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter, kedisiplinan, dan kepemimpinan bagi generasi muda. Di sisi lain, Kelompok Wanita Tani (KWT) berkontribusi melalui berbagai kegiatan produktif berbasis lingkungan yang mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Inovasi sosial lainnya diwujudkan melalui Taman Baca Habibah, yang menjadi ruang literasi, pembelajaran, dan pembinaan karakter bagi anak-anak serta remaja di kawasan Danau Sipin. Kolaborasi antarkomunitas tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan pembangunan sumber daya manusia.

Danau Sipin Jambi

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menjaga kebersihan lingkungan. Gerakan ini diarahkan untuk membangun masyarakat yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Aktivitas olahraga dayung, aksi bersih Danau Sipin, pengelolaan Bank Sampah dan TPS3R, kegiatan literasi melalui Taman Baca Habibah, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat solidaritas, meningkatkan kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan fisik dan mental, terutama bagi generasi muda.

Dengan demikian, Program Kampung Iklim di Kelurahan Legok berkembang bukan hanya sebagai program pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang membangun ketahanan masyarakat secara menyeluruh.

Menurut Syafrial, keberhasilan Kelurahan Legok meraih predikat Proklim Utama bukanlah tujuan akhir, melainkan indikator bahwa tata kelola kolaboratif telah berjalan secara efektif. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan sistem yang telah terbentuk tetap mampu bertahan menghadapi perubahan, mulai dari dinamika sosial, perubahan kepemimpinan, perkembangan kebijakan, hingga dampak perubahan iklim yang semakin kompleks. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya menelaah keberhasilan yang telah dicapai, tetapi juga mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan keberlanjutan Program Kampung Iklim dalam jangka panjang.

Dalam perspektif Collaborative Governance, penelitian ini mengkaji bagaimana pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan lainnya membangun kepercayaan, kepemimpinan kolaboratif, komitmen bersama, serta mekanisme pengambilan keputusan yang partisipatif. Penelitian ini berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan Proklim tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pemerintah, tetapi juga oleh kualitas hubungan, sinergi, dan kepemimpinan yang dibangun di antara seluruh aktor yang terlibat.

Namun demikian, kolaborasi yang kuat saja belum cukup menjamin keberlanjutan. Melalui perspektif Adaptive Governance, penelitian ini juga mengkaji kemampuan masyarakat dan kelembagaan lokal dalam beradaptasi terhadap berbagai perubahan. Berbagai inovasi yang berkembang di Kelurahan Legok, seperti pengelolaan sampah yang menghasilkan nilai ekonomi melalui Bank Sampah dan TPS3R, penguatan organisasi masyarakat, pemberdayaan perempuan melalui KWT, pengembangan literasi melalui Taman Baca Habibah, hingga pembinaan generasi muda melalui Kelompok Dayung Habibah, menunjukkan adanya kapasitas adaptif yang menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan Program Kampung Iklim.

Selanjutnya, melalui perspektif Socio-Ecological Systems, penelitian ini memandang Kelurahan Legok sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan manusia dengan lingkungan. Menjaga Danau Sipin tidak hanya berarti menjaga kualitas ekosistem perairan melalui kegiatan pembersihan sampah setiap hari, tetapi juga membangun masyarakat yang sehat, produktif, berdaya, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Keberhasilan Program Kampung Iklim, oleh karena itu, tidak hanya diukur dari meningkatnya kualitas lingkungan atau diraihnya penghargaan Proklim Utama, tetapi juga dari terwujudnya keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan ekologi sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan tata kelola Program Kampung Iklim di Indonesia. Pengalaman Kelurahan Legok menunjukkan bahwa keberhasilan Proklim lahir dari kepemimpinan lokal yang visioner, partisipasi aktif masyarakat, kelembagaan komunitas yang kuat, inovasi sosial yang berkelanjutan, serta kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk terus berkolaborasi dan beradaptasi menghadapi perubahan. Model tata kelola yang berkembang di Kelurahan Legok diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun Program Kampung Iklim yang tidak hanya berhasil meraih penghargaan, tetapi juga mampu menciptakan manfaat nyata bagi lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat kesehatan fisik dan mental warga, serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.